jump to navigation

Sejarah Candi Borobudur Oktober 16, 2009

Posted by mrfahmi in Sejarah.
add a comment

Patung Budha Mahayana

1. Sejarah Candi Borobudur

Sampai sekarang belum pernah ditemukan sumber – sumber tertulis yang menyebutkan kapan Candi Borobudur itu dibangun sehingga secara tidak pasti tidak dapat ditentukan usianya. Beberapa bukti telah dikemukakan olah para ahli untuk menentukan usia dari bangunan Candi Borobudur itu. Pada bagian kaki Candi Borobudur yang tetutup terdapat tulisan singkat berbahasa sansekerta dengan huruf kawi. Dengan membandingkan bentuk huruf – huruf tersebut dengan prasasti – prasasti bertarikh yang ada di Indonesia, maka sementara sarjana berpendapat bahwa candi Borobudur dibangun sekitar tahun 800 M. Pada abad itu di Jawa tengah berkuasa raja – raja dari Wangsa Syailendra yang menganut agama budha sehingga dapat dikatakan bahwa Borobudur bersifat agama budha Mahayana itu ada hubungannya dengan Wangsa Syailendra.


2. Lokasi Candi Borobudur

Borobudur adalah sebuah candi Budha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa tengah. Lokasi candi adalah ± 100 km di sebelah barat daya Semarang dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta dan dikelilingi beberapa dusun antara lain Bumi Segoro, Sabreng, Jawahan, Barepan, Ngarak, Kelan, Janan dan Gendingan.
Pada zaman dahulu pulau Jawa terapung ditengah lautan, oleh karenanya harus dipaku pada pusat bumi agar dapat dihuni manusia. Paku yang sangat besar itu kini menjadi sebuah gunung yang terletak di kota Magelang yaitu gunung tidar. Di sebelah selatan gunung Tidar kira – kira jarak 15 km terdapat candi Borobudur. Candi Borobudur yang terletak di daratan kedu hampir seluruhnya di lingkari oleh pegunungan. Di sebelah timur terdapat gunung merapi dan gunung merbabu. Pada gunung merapi itu setiap dua atau tiga tahun terdengar letusan – letusan yang masih aktif dalam kegiatanya. Sisi barat laut terdapat gunung Sumbing dan Sindoro. Juga disebelah selatan yang membujur dari timur ke barat terdapat pegunungan Menoreh. Oleh karena puncak – puncak pegunungan ini banyak yang runcing bagai menara maka pegunungan ini dinamakan pegunungan Menoreh. Dilihat dari Candi Borobudur puncak – puncak pegunungan Menoreh serupa dengan seorang yang sedang berbaring diatas pegunungan tersebut. Karena itulah ada cerita rakyat yang menjelaskan bahwa bagian dari puncak gunung yang serupa dengan orang tidur itu adalah Gunadharma, yaitu ahli bangunan yang berhasil membuat candi Borobudur.


3. Arti atau Makna Candi Borobudur

Bangunan – bangunan kuno yang berasal dari zaman purba sejarah Indonesia (permulaan tarikh masehi sampai akhir abad ke -15) biasanya disebut candi. Sebagian besar dari candi – candi itu tidak diketahui nama aslinya. Candi – candi memang harus ditemukan dahulu, sebelum dimasukan ke dalam khasanah pusaka budaya nusantara. Juga banyak candi – candi yang diberi nama seperti desa di mana candi itu berada. Tetapi ada juga desa yang diberi nama menurut candinya. Hanya satu atau dua candi sajalah yang masih tetap menyimpan nama aslinya. Candi Borobudur sendiri sulit ditentukan apakah nama Borobudur mengambil dari nama desa yang mengambil dari nama candi tersebut.
Banyak teori yang menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini berasal dari kata Sambharabhudara, yaitu artinya gunung ( Bhudara ) dimana di lereng – lerengnya terletak teras – teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainya. Misalkan kata Borobudur berasal dari ucapan para budha yang karena pergeseran bunyi menjadi Borobudur. Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata Bara dan Beduhur. Kata bara konon berasal dari kata vihara, sementara ada pula penjelasan lain dimana bara berasal dari bahasa sansekerta yang artinya kompleks candi atau biara dan Beduhur artinya ialah tinggi, atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti diatas. Jadi maksudnya ialah sebuah biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.
Sejarawan J.G de Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada tahun 1950 berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan. Berdasarkan prasasti Karang tengah dan Kahuluan, Casparis memperkirakan pendiri Borobudur adalah raja dari dinasti Wangsa Syailendra pada masa pemerintahan Samaratungga sekitar 824 M. Bangunan raksasa itu baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad.
Dari Babad ( kitab sejarah Jawa) dari abad ke-18 tersebut Bukit Borobudur, sedang keterangan yang disampaikan oleh Raffles ( Letnan Gubernur Jendral Inggris ) pada tahun 2824 di desa bumi ditemukan benda purbakala bernama Borobudur. Dengan penemuan itu dapat disimpulkan bahwa Borobudur adalah nama asli dari bangunan candinya. Walau demikian perlu dicatat bahwa tidak ada sesuatu keterangan baik prasasti maupun dokumen lain yang mengungkapkan nama candi Borobudur yang sesungguhnya.
Naskah dari tahun 1365 M, yaitu kitab Negara kertagama karangan Mpu Prapanca juga menyebutkan kata atau nama Budur untuk sebuah bangunan agama budha aliran Wajradha.
Kemungkinan yang ada budur tersebut tidak lain adalah candi Borobudur. Karena tidak adanya keterangan yang lain kiranya tidak bisa diambil suatu kepastian.
Penafsiran Borobudur telah pula dilakukan oleh Raffles berdasarkan keterangan yang ia kumpulkan dari masyarakat luas. Budur merupakan bentuk lain dari Budo yang dalam bahasa jawa berarti kuno. Tetapi bila dikaitkan dengan Borobudur berarti Boro zaman kuno jelas tidak mengandung suatu pengertian yang dapat dikaitkan dengan candi Borobudur. Maka Raffles menerangkan keterangan lain yakni Boro berarti agung dan budur disamakan dengan budha. Maka dengan demikian Borobudur berarti Sang Budha yang agung. Namun karena bara dalam bahasa kuno dapat diartikan banyak maka Borobudur dapat pula berarti budha yang banyak. Perubahan demikian dapat diterangkan dari segi ilmu bahasa.
Bapak Poerbatjaraka (alm) menafsirkan dengan masuk akal. Menurut beliau perkataan Boro itu biar, dengan demikian maka Borobudur berarti Biara Budur.
Drs. Soedirman dalam bukunya “Borobudur Salah Satu Keajaiban Dunia”, menjelaskan mengenai arti nama Borobudur sampai sekarang belum jelas. Namun juga dituliskan bahwa Borobudur berasal dari kata sansekerta Vihara yang berarti kompleks candi dan biara atau asrama.
Jadi, nama Borobudur berarti asrama / vihara atau kelompok candi yang terletak di atas bukit.


4. Tahapan pembangunan Candi Borobudur

1.Tahap Pertama
Masa pembangunan Borobudur tidak diketahui pasti diperkirakan antara 750 dan 850 M. Pada awalnya dibangun tata susun bertingkat. Sepertinya dirancang sebagai piramida berundak, tetapi kemudian diubah. Sebagai bukti ada tata susun yang dibongkar.

2.Tahap kedua
Pondasi Borobudur diperlebar, ditambah dengan dua undak persegi dan satu undak lingkaran yang langsung diberikan stupa induk besar.

3.Tahap ketiga
Undak atas lingkaran dengan stupa induk besar dibongkar dan dihilangkan dan diganti tiga undak lingkaran. Stupa – stupa di bangun pada puncak undak – undak ini dengan satu stupa besar di tengahnya.

4.Tahap keempat
Ada perubahan kecil seperti pembuatan relief perubahan tangga dan lengkung atas pintu. Penemuan dan pemugaran Borobudur.


5.Bentuk Bangunan Candi Borobudur

Bangunan Candi Borobudur berbentuk limas berundak dan apabila dilihat dari atas merupakan bujur sangkar. Bangunan candi ada 10 tingkat yang paling atas berbentuk lingkaran dengan tiga teras.
Teras pertama terdapat : 32 stupa berlubang
Teras kedua terdapat : 24 stupa berlubang
Teras ketiga terdapat : 16 stupa berlubang
Jumlah seluruhnya : 72 stupa berlubang
Masing – masing stupa terdapat patung Budha. Di tengah – tengah stupa tersebut terdapat stupa induk yang merupakan mahkota dari bangunan Candi Borobudur.
Uraian bangunan Candi Borobudur secara teknis dapat dirinci sebagai berikut :
Lebar dasar candi Borobudur : 123 m ( lebar = panjang karena bujur Sangkar)
Tinggi bangunan : 34,5 m setelah restorasi,
42 m sebelum restorasi
Jumlah batu : 55.000 m3 ( 2.000.000 blok batu )
Jumlah stupa : 1 stupa induk
72 stupa berterawang
Stupa induk bergaris tengah : 9.9 m
Tinggi stupa induk : 7 m
Jumlah bidang relief : 1.460 bidang ( ± 2.5 – 3 km)
Jumlah patung Budha : 504 buah
Tinggi patung Budha : 1.5 m


6.Struktur Candi Borobudur

Candi Borobudur berbentuk punden berundak, yang terdiri dari enam tingkat berbentuk bujur sangkar, tiga tingkat berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Selain itu tersebar di semua tingkat – tingkatanya beberapa stupa
Borobudur yang bertingkat sepuluh menggambarkan secara jelas fisafat mazhab Mahayana. Bagaikan sebuah kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi budha.

Adapun tingkatan – tingkatan itu pada dasarnya dapat pula diterapkan pembagian alam semesta menjadi tiga dunia, yaitu :

1.Dunia paling bawah
Bagian kaki Borobudur melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh Kama atau nafsu rendah. Kamadhatu (dunia hasrat), dalam tingkatan ini manusia masih terikat oleh hasrat bahkan dikuasai oleh hasrat. Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Pada bagian yang tertutup struktur tambahan ini terdapat 120 panel cerita kamawhibhangga Sebagian struktur tambahan itu disisihkan sehingga orang masih dapat melihat relief pada bagian ini.

2.Dunia yang lebih tinggi
Empat lantai dengan dinding relief diatasnya oleh para ahli dinamakan Rupadhatu, lantainya berbentuk persegi. Rupadhatu (dunia nafsu) adalah dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan ini melambangkan alam antara alam bawah dan alam atas. Pada bagian Rupadhatu ini patung – patung Budha terdapat pada ceruk – ceruk dinding diatas balustrade atau selasar.

3.Dunia yang tertinggi
Mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu ( yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud ). Denah lantai berbentuk lingkaran. Tingkatan ini melambangkan alam atas, dimana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana. Patung Budha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang – lubang seperti dalam kurungan – kurungan. Dari luar Patung – patung itu masih tampak samar – samar.
Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang – lubang. Di dalam stupa terbesar ini, diduga dulu ada sebuah patung penggambaran Adibudha. Patung yang diduga terbesar ini kini diletakan dalam sebuah museum arkeologi, beberapa ratus meter dari Candi Borobudur. Patung ini dikenal dengan nama Unfinished Budha.
Di masa lalu, beberapa patung Budha bersama dengan 30 batu dengan relief, dua patung singa, beberapa batu berbentuk kala, tangga dan gerbang dikirimkan ke raja Thailand, Chulalongkom yang mengunjungi Hindia Belanda ( kini Indonesia ) pada tahun 1896 sebagai hadiah dari pemerintah Hindia Belanda ketika itu. Borobudur tidak memiliki ruang pemujaan seperti candi – candi lain. Yang ada ialah lorong – lorong panjang yang merupakan jalan sempit.
Lorong – lorong dibatasi oleh dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Di lorong inilah umat Budha diperkirakan melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur bertingkat – tingkat ini diduga merupakan perkembangan dari bentuk punden berundak yang merupakan bentuk arsitektur asli dari masa prasejarah Indonesia. Struktur Borobudur bila dilihat dari atas membentuk struktur Mandala.
Candi Borobudur tidak memiliki bilik ataupun ruangan di dalamannya. Oleh karena itu, tidak dapat berfungsi sepenuhnya sebagai candi, maka lebih tepatnya kiranya kalau bangunan itu kita anggap sebagai bangunan ziarah dan bukan sebagai tempat pemujaan.
Sesungguhnya adanya jenjang – jenjang dan lorong dimaksudkan sebagai pengantar serta pemandu para peziarah untuk ke puncak melalui jalan keliling dari satu tingkat ke tingkat berikutnya.
Perjalanan setingkat demi setingkat sesuai benar dengan aliran Budha yang sangat mementingkan adanya tingkatan – tingkatan dalam persiapan mental para penganut yang setia, melalui tingkatan – tingkatan itulah tujuan akhir perjalanan manusia dapat tercapai, yaitu terlepasnya secara mutlak dari segi ikatan duniawi dan dapat bebas secara mutlak dari kelahiran kembali.


7.Relief Candi Borobudur

Di setiap tingkatan di pahat relief pada dinding candi. Relief – relief ini dibaca sesuai arah jarum jam atau disebut mapradaksina dalam bahasa Jawa Kuno yang berasal dari bahasa sansekerta daksina yang artinya ialah timur. Relief – relief ini bermacam – macam isi ceritanya, antara lain ada relief tentang wiracarita Ramayana. Ada pula relief – relief cerita Jataka.
Pembacaan cerita – cerita relief ini senantiasa dimulai dan berakhir pada pintu gerbang sisi timur di setiap tingkatnya, mulainya di sebelah kiri dan berakhir di sebelah kanan pintu gerbang itu. Maka secara nyata bahwa sebelah timur adalah tangga naik yang sesungguhnya (utama) dan menuju puncak candi, artinya bahwa candi menghadap ke timur meskipun sisi – sisi lainya serupa benar.

Relief Begambar Hewan

Secara runtutan, maka cerita pada relief candi secara tingkat bermakna sebagai berikut :

1.Karmawibhangga
Salah satu ukiran karmawibhangga di dinding Candi Borobudur (lantai 0 sudut tenggara).
Sesuai dengan makna simbolis pada kaki candi, relief yang menghias dinding batu yang terselubung tersebut, menggambarkan hukum karma. Deretan relief tersebut bukan merupakan cerita seri (serial) tetapi pada setiap pigura menggambarkan suatu cerita yang mempunyai kolerasi sebab akibat. Relief tersebut tidak saja memberi gambaran terhadap perbuatan tercela manusia disertai dengan hukuman yang akan diperolehnya, tetapi juga perbuatan baik manusia dan pahala. Secara keseluruhan merupakan penggambaran kehidupan manusia dalam lingkaran lahir – hidup – mati (samsara) yang tidak pernah berakhir, dan oleh agama Budha rantai itulah yang akan di akhiri untuk menuju kesempurnaan.
Karmawibhangga_Borobudur
2.Lalitawistara
Merupakan penggambaran riwayat Sang Budha dalam deretan relief – relief ( tetapi bukan merupakan riwayat yang lengkap ) yang dimulai dari turunya Sang Budha dari Sorga Tusita, dan berakhir dengan wejangan pertama di Taman Rusa dekat kota Banaras. Relief ini berderet dari tangga pada sisi sebelah selatan, setelah melampaui deretan relief sebanyak 27 pigura yang dimulai dari tangga sisi timur, ke – 27 pigura tersebut menggambarkan kesibukan, baik di sorga maupun di dunia, sebagai persiapan untuk menyambut hadirnya penjelmaan terakhir Sang Budhisattwa selaku calon Budha. Relief tersebut menggambarkan lahirnya Sang Budha, di arca pada ini sebagai Pangeran Siddhartha, putra Raja Suddhodana dan Permaisuri Maya dari negeri Kapilawastu. Relief tersebut berjumlah 120 pigura yang berakhir dengan wejangan pertama yang secara simbolis dinyatakan sebagai pemutaran Roda Dharma, ajaran Sang Budha disebut Dharma yang juga berarti hukum, sedangkan Dharma dilambangkan sebagai roda.

Relief Lalitawistara

Relief Lalitawistara

3.Jataka dan Awadana
Jataka adalah cerita tentang Sang Budha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta. Isinya merupakan pokok penonjolan perbuatan baik, yang membedakan Sang Bodhisattwa dari makhluk lain manapun juga. Sesungguhnya pengumpulan jasa atau perbuatan baik merupakan tahapan dalam usaha menuju keringat ke – Budhaan.
Sedangkan Awadana pada dasarnya hampir sama dengan Jataka akan tetapi pelakunya bukan Sang Bodhisattwa, melainkan orang lain dan ceritanya dihimpun dalam kitab Diwyawadana yang berarti perbuatan mulia kedewaan dan kitab Awadasanataka atau seratus cerita Awadana. Pada relief Candi Borobudur Jataka dan Awadana diperlakukan sama artinya keduanya terdapat dalam deretan yang sama tanpa dibedakan. Himpunan yang paling tekenal dari kehidupan Sang Bodhisattwa adalah Jatakamala atau untaian cerita Jataka, karya penyair Aryasura yang hidup dalam abad ke – 4 Masehi.

Relief Jataka

Relief Jataka

4.Gandawyuha
Merupakan deretan relief menghiasi dinding lorong kedua adalah cerita Sudhana yang berkelana tanpa mengenal lelah dalam usahanya dalam mencari Pengetahuan Tertinggi tentang kebenaran sejati oleh Sudhana. Penggambaranya dalam 460 pigura didasarkan pada kitab suci Budha Mahayana yang berjudul Gandawyuha dan untuk bagian penutupnya berdasarkan cerita kitab lainya yaitu Bhadracari.


8.Bentuk Mudra Candi Borobudur

Candi Borobudur tidak hanya diperindah dengan relief – relief dan ukiran hias tetapi juga dapat dibanggakan karena patung – patungnya yang sangat tinggi mutu seninya. Patung – patung itu semua menggambarkan Dhayani Budha, terdapat pada bagian Rupadhatu dan Aruphadatu. Namun tidak semua patung dalam keadaan utuh, banyak yang tanpa kepala atau tangan (300 buah) dan 43 hilang. Hal ini disebabkan oleh bencana alam dan tangan – tangan jahil atau pencurian sebelum candi Borobudur diadakan renovasi. Patung – patung Budha di rupadhatu ditempatkan dalam relung yang tersusun berjajar pada sisi luar pagar langkan sesuai dengan kenyataan bahwa tingkatan – tingkatan bangunanya semakin tinggi semakin kecil ukuranya.
Ditingkat Rupadhatu
Langkah pertama : 104 Patung Budha
Langkah kedua : 104 Patung Budha
Langkah ketiga : 88 Patung Budha
Langkah keempat : 72 Patung Budha
Langkah kelima : 64 Patung Budha
Jumlah seluruhnya : 432 Patung Budha
Tingkat Arupadhatu
Teras bundar pertama : 32 Patung Budha
Teras bundar kedua : 24 Patung Budha
Teras bundar ketiga : 16 Patung Budha
Jumlah seluruhnya : 72 Patung Budha

Sekilas patung – patung Budha itu nampak serupa semuanya, sesungguhnya ada juga perbedaannya. Perbedaan yang sangat jelas ialah sikap tanganya yang disebut Mudra yang merupakan setiap ciri khas dari setiap patung.
Sikap tangan atau Mudra Candi Borobudur ada 6 macam, hanya saja oleh karena kedua macam mudra yang dimiliki oleh patung yang menghadap semua arah baik di bagian Rupadhatu ( langkah tingkat 5 ) maupun bagian Arupadhatu pada umumnya menggambarkan maksud – maksud yang sama. Maka jumlah mudra yang pokok ada 5, yaitu :

1.Bhumispara Mudra
Mudra ini menggambarkan sikap tangan sedang menyentuh tangan. Tangan kiri terbuka menengadah di pangkuan, sedangkan tangan kanan menempel pada lutut kanan dengan jari – jarinya menunjuk kebawah. Sikap tangan ini melambangkan saat Sang Budha memanggil Dewi Bumi sebagai saksi ketika ia menangkis serangan iblis Mara.
2.Wara Mudra
Mudra ini melambangkan sikap tangan sedang memenangkan dan menyatakan “Jangan khawatir”. Tangan kiri terbuka dan menengadah di pangkuan, sedangkan tangan kanan diangkat ke atas lutut kanan dengan telapak menghadap ke muka. Sikap tangan ini melambangkan perihal amal, memberi anugerah atau berkah. Mudra ini adalah khas bagi Dhayani Budha Ratna Sambawa. Patung – patungnya menghadap ke selatan.
3.Dhayani Mudra
Mudra ini menggambarkan sikap semedi. Kedua tangan diletakan di atas pangkuan, yang kanan di atas yang kiri dengan telapaknya menengadah dan kedua jempolnya saling bertemu. Mudra ini merupakan tanda khusus Dhayani Amithaba. Patung – patungnya menghadap ke barat.
4.Abhaya mudra
Mudra ini nampak serupa dengan Bhumispara – mudra tetapi telapak tangan yang kanan menghadap ke atas sedangkan yang jari – jarinya terletak dilutut kanan. Sikap tangan ini melambangkan sedang menenangkan. Mudra ini merupakan tanda khusus Dhayani Budha Amoghasdhi. Patung – pataungnya menghadap ke utara.
5.Dharma cakra mudra
Sikap tangan ini melambangkan gerak memutar roda dharma. Mudra ini menjadi ciri khas Dhayani budha Wairocana daerah kekuasaanya terletak di pusat. Khusus di candi Borobudur Wairocana ini digambarkan juga dengan sikap tangan yang disebut Witarka – mudra.

9.Pemugaran pertama ( Van ERP Tahun 1907 – 1911 )

Karena keadaan Borobudur kian memburuk maka pada tahun 1900 dibentuklah suatu panitia khusus, diketuai oleh Dr. J.L.A Brandes, sangat disayangkan Dr. J.L.A Brandes meninggal tahun 1905 namun laporan bersama yang disusunya tahun 1902 membuahkan rancangan pemugaran. Tahun 1905 dimulai pemugaran besar – besaran yang pertama kali dan dipimpin oleh Van ERP. Pekerjaan ini berlangsung selama 4 tahun sampai tahun 1911 dengan biaya sekitar 100.000 Gulden dan seper sepuluhnya digunakan untuk pemotretan.
Kegiatan Van ERP antara lain memperbaiki system drainase, saluran – saluran pada bukit diperbaiki dan pembuatan canggal untuk mengarahkan air hujan.
Pada tingkat Rupadhatu lantai yang melesak dengan campuran pasir dan tras atau semen sehingga air hujan mengalir melalui dwarajala atau gargoyle. Batu – batu yang runtuh dikembalikan dan beberapa bagian yang miring dan membahayakan diberi penguat. Pada tingkat Rupadhatu, 72 buah stupa dibongkar dan disusun kembali setelah dasarnya diratakan demikian juga pada stupa induknya.
Pada tahun 1926 diadakan pengamatan diketahui adanya pengrusakan sengaja yang dilakukan wisatawan asing yang rupanya ingin memiliki tanda mata dari Borobudur. Kemudian pada tahun 1929 dibentuklah panitia khusus untuk mengadakan penelitian terhadap batu dan reliefnya. Penelitian panitia akhirnya menyimpulkan ada tiga macam kerusakan yang masing – masing disebabkan oleh :

1. Korosi, yang disebabkan oleh pengaruh iklim.
2. Kerja mekanis, yang disebabkan oleh tangan manusia atau kekuatan lain yang datang dari luar.
3. Kekuatan tekanan, kerusakan karena tertekan atau tekanan batu – batuanya berupa retak – retak, bahkan pecah.

10.Pemugaran kedua ( Tahun 1973 – 1983 )

Usaha pemugaran berikutnya dilakukan pada tahun 1963 oleh pemerintah Republik Indonesia dengan menyediakan dana yang cukup besar namun usaha ini terhenti dengan adanya pemberontakan dari partai komunis Indonesia yang membunuh 7 jenderal besar tanggal 30 september atau G30 S/PKI.
Pada tahun 1968 pemerintah Republik Indonesia membentuk panitia nasional untuk melaksanakan pemugaran candi Borobudur. Pada tahun ini juga UNESCO akan membantu pemugaran.
Pada tahun 1969 presiden membubarkan panitia nasional dan membebankan tugasnya pada Menteri Perhubungan bahwa rencana pemugaran candi Borobudur menjadi proyek dalam Repelita. Pada tahun 1970 atas prakarsa UNESCO diadakan diskusi panel yang diadakan di Yogyakarta untuk membahas rencana pemugaran. Kesepakatan yang diperoleh adalah membongkar dan kemudian memasang kembali batu – batu bagian Rupadhatu.
Kemudian pada tanggal 10 agustus 1973 Presiden Soeharto meresmikan dimulainya pemugaran candi Borobudur. Persiapan pemugaran memakan waktu selama dua tahun dan kegiatan fisiknya, yaitu dimulainya dengan pembongkaran batu – batu candi dimulai tahun 1975.
Dengan menggerakan lebih dari 600 pekerja serta batu – batu sebanyak satu juta buah. Bangunan candi yang dipugar adalah bagian Rupadhatu yaitu empat tingkat dari bawah yang berbentuk bujur sangkar. Kegiatan ini memakan waktu sepuluh tahun dan pada tanggal 23 februari 1983 pemugaran candi Borobudur dinyatakan selesai dengan diresmikan oleh Presiden Soeharto dengan ditandai penandatanganan Prasasti. Prasati tersebut bertuliskan : “ Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa pemugaran Candi Borobudur diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia”. Soeharto, Borobudur, 23 februari 1983.

Pihak – pihak yang turut serta dalam pemugaran Candi Borobudur :

  • Pemerintah Negara Republik Indonesia.
  • Rakyat Indonesia didalam dan luar negeri.
  • Japan Association for the restoration of Borobudur in Cooperation with the Asian Cultural Center for UNESCO.
  • American Committee for Borobudur Inc.
  • - Commemorative Asociation of the Japan World Exporition.
  • - International Bussiness Machines Corporation.
  • Netherland National committee for Borobudur.
  • Borobudur Restoration Supporting Group in Nagayo.

Usaha menyelamatkan Candi Borobudur dengan berjuta – juta dolar mempunyai banyak manfaat bagi bangsa kita. Menurut Prof. Soekmono sesungguhnya Candi Borobudur mempunyai nilai lain daripada sekedar objek wisata yaitu sebagai benteng pertahanan kebudayaan kita. Seperti peninggalan purbakala lainya Candi Borobudur menjadi penegak kepribadian bangsa kita sehingga menjadi kewajiban dan tanggung jawab bangsa kita untuk meneruskan keagungan Candi Borobudur kepada anak cucu kita.
Bantuan Internasional melalui UNESCO tidak semata – mata disebabkan beratnya beban yang harus dipikul tetapi disebabkan oleh besarnya hasrat untuk mengajak sebanyak mungkin bangsa lain untuk menangani suatu proyek kemanusiaan seperti Candi Borobudur (Soekmono, 1981).

11.Taman Wisata

Setelah pemugaran candi Borobudur selesai, baru ada gagasan untuk lebih mengembangkan candi Borobudur dan wilayah sekitarnya sehingga akan dapat mendukung keberadaan Candi Borobudur sebagai tujuan wisata utama. Karena dalam setiap liburan terjadi ledakan pengunjung yang jika tidak diwaspadai akan membawa pengaruh bagi pelestarian maupun kenyamanan pengunjung. Itulah sebabnya untuk menjaga dan melestarikanya pemerintah membentuk PT. Taman Wisata Candi Borobudur dan Prambanan sebagai salah satu BUMN dibawah naungan Departemen Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi.
Pembangunan taman merupakan suatu usaha pembangunan yang beruang lingkup nasional dan hanya berdimensi Tri Patra karena sekaligus merupakan pembangunan sosial demi kepentingan penduduk yang secara integral merupakan juga pembangunan suatu wilayah.

12.Usaha – usaha penyelamatan bangunan bersejarah Candi Borobudur

Foto pertama Borobudur dari tahun 1873. Bendera Belanda tampak pada stupa utama Candi.

1.1814 – Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur jenderal Britania Raya di Jawa, mendengar adanya penemuan benda purbakala di Desa Borobudur. Raffles memerintahkan H.C Cornelius untuk menyelidiki lokasi penemuan, berupa bukit yang dipenuhi semak belukar.

2.1873 – Monografi pertama tentang candi diterbitkan.

3.1900 – Pemerintahan Hindia Belanda menetapkan sebuah panitia pemugaran dan perawatan Candi Borobudur.

4.1907 – Theodoor Van Erp memimpin pemugaran hingga tahun 1911.

5.1926 – Borobudur dipugar kembali, tapi terhenti pada tahun 1940 akibat krisis malaise dan perang dunia II.

6.1956 – Pemerintah Indonesia meminta bantuan UNESCO. Prof. Dr. C Coremans datang ke Indonesia dari Belgia untuk meneliti sebab – sebab kerusakan Borobudur.

7.1963 – Pemerintah Indonesia mengeluarkan surat keputusan untuk memugar Borobudur, tapi berantakan setelah terjadi G30 S/PKI.

8.1968 – Pada konferensi ke – 15 di Perancis, UNESCO setuju untuk memberi bantuan untuk menyelamatkan Candi Borobudur.

9.1971 – Pemerintah Indonesia membentuk badan pemugaran Borobudur yang diketuai oleh Prof. Ir. Rooseno.

10.Batu peringatan pemugaran Candi Borobudur dengan bantuan UNESCO.

11.1972 – International Consultative Committee di bentuk dengan melibatkan berbagai negara dan Rooseno sebagai ketuanya. Komite yang disponsori oleh UNESCO menyediakan 5 juta dolar dari biaya pemugaran 7.750 juta dolar, sisanya di tanggung Indonesia.

12.10 Agustus 1973 – Presiden Soeharto meresmikan di mulainya pemugaran Borobudur, pemugaran selesai pada tahun 1984.

13.21 Januari 1985 – Terjadi serangan bom yang merusakan beberapa stupa pada Candi Borobudur yang kemudian segera diperbaiki kembali.

14.1991 – Borobudur di tetapkan sebagai warisan dunia UNESCO.

SEJARAH CANDI PRAMBANAN Oktober 16, 2009

Posted by mrfahmi in Sejarah.
add a comment

CANDI PRAMBANAN DITINJAU DARI SEGI SEJARAH

NIh Candi Prambanan

NIh Candi Prambanan

1.Sejarah Candi Prambanan
Candi Prambanan adalah kelompok percandian Hindu yang dibangun oleh raja – raja Dinasti Sanjaya pada abad XI . Ditemukanya tulisan nama Pikatan pada candi ini menimbulkan pendapat bahwa candi ini dibangun oleh Rakai Pikatan yang kemudian diselesaikan oleh Rakai Balitung. Berdasarkan prasasti berangka tahun 856 M Prasasti Singawargha sebagai manifest politik untuk menenguhkan kedudukannya sebagai Raja yang besar. Terjadinya perpindahan pusat kerajaan mataram ke Jawa timur, berakibat tidak terawatnya candi – candi di daerah ini ditambah terjadinya gempa bumi serta beberapa kali meletusnya gunung merapi menjadikan candi Prambanan runtuh tinggal puing – puing batu yang berserakan. Sungguh menyedihkan itulah keadaan pada saat penemuan kembali candi Prambanan.
Usaha pemugaran yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda berjalan sangat lamban dan akhirnya pekerjaan yang sangat berharga itu diselesaikan oleh bangsa Indonesia.
Pada tanggal 20 desember 1953 pemugaran candi induk Loro Jonggrang secara resmi dinyatakan selesai oleh Dr. Ir. Soekarno sebagai presiden Republik Indonesia pertama.
Sampai sekarang pekerjaan pemugaran dilanjutkan, yaitu pemugaran candi Brahma dan candi Wisnu. Candi Brahma dipugar mulai tahun 1977 dan selesai pada tanggal 23 Maret 1987 . Sedangkan candi Wisnu mulai dipugar pada tahun 1982 dan diresmikan oleh bapak Presiden Soeharto pada tanggal 27 April 1991.

2. Lokasi Candi Prambanan

Candi Loro Jonggrang atau yang sering disebut Candi Prambanan terletak persis di perbatasan propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan propinsi Jawa tengah, ± 17 km ke arah timur dari kota Yogyakarta atau ± 53 km sebelah barat Solo. Komplek percandian Prambanan ini masuk ke dalam dua wilayah yakni komplek bagian barat masuk wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan bagian timur masuk wilayah propinsi Jawa tengah. Percandian Prambanan berdiri di sebelah timur sungai opak ± 200 meter sebelah utara jalan raya Yogya – Solo.

3. Asal – usul nama candi Prambanan

Gugusan candi ini dinamakan Prambanan karena terletak di daerah Prambanan. Nama Loro Jonggrang berkaitan dengan legenda yang menceritakan tentang seorang dara yang jonggrang atau gadis yang jangkung putri Prabu Boko.

4. Deskripsi Bangunan
Komplek percandian Prambanan terdiri atas latar bawah, latar tengah dan latar atas (latar pusat) yang makin ke dalam makin tinggi letaknya.
Berturut – turut luasnya 390 meter persegi, panjang 222 meter persegi dan tinggi 110 meter persegi. Didalam latar tengah terdapat reruntuhan candi – candi Perwara.
Apabila seluruhnya telah selesai dipugar, maka akan ada 224 buah candi yang ukuranya semua sama yaitu luas dasar 6 meter persegi dan tingginya 14 meter. Latar pusat adalah latar terpenting di atasnya berdiri 16 buah candi besar dan kecil. Candi – candi utama berdiri atas dua deret yang saling berhadapan. Deret pertama yaitu Candi Siwa, Candi Wisnu dan Candi Bhama. Deret kedua yaitu candi Nandi, Candi Angsa dan Candi Garuda. Pada ujung – ujung lorong yang memisahkan kedua deretan candi tersebut terdapat candi Apit. Delapan candi lainya lebih kecil. Empat diantaranya Candi Kelir dan empat candi lainya disebut Candi Sudut. Secara keseluruhan percandian ini terdiri dari 240 buah candi.

5. Candi – candi di Prambanan

  • Candi Siwa

Candi dengan luas dasar 34 meter persegi dan tinggi 47 meter persegi adalah candi terbesar dan tertinggi. Dinamakan candi Siwa karena didalamanya terdapat arca Siwa Mahadewa yang merupakan arca terbesar. Bangunan ini terbagi atas tiga bagian secara vertical kaki, tubuh dan kepala atau atap. Kaki candi menggambarkan “dunia bawah” tempat manusia yang masih diliputi oleh hawa nafsu, tubuh candi menggambarkan “dunia tengah” tempat manusia yang telah meninggalkan keduniaan dan di atas melukiskan “dunia atas” tempat para dewa.
Gambar kosmos nampak pula dengan adanya arca dewa – dewa dan mahluk surgawi yang menggambarkan Gunung Mahameru ( Mount Everest di India ) tempat para dewa. Pintu utama menghadap ke timur dengan tangga masuknya yang terbesar. Di tangan kirinya berdiri dua arca raksasa penjaga, dengan membawa gada yang merupakan manifestasi dari Siwa. Di dalam candi terdapat empat ruangan yang menghadap ke arah mata angin dan mengelilingi ruangan terbesar yang ada di tengah – tengah. Kamar terdepan kosong, sedangkan ketiga kamar lainnya masing – masing berisi arca : Siwa Maha Guru, Ganesha dan Durga.
Dasar kaki candi dikelilingi oleh selasar yang dibatasi oleh pagar langkan. Pada dinding langkan terdapat relief cerita Ramayana yang dapat diikuti dengan cara Pradaksina ( berjalan searah jarum jam) mulai dari pintu utama. Hiasan – hiasan pada dinding sebelah luar berupa “kinari – kinari” ( kepala raksasa yang lidahnnya berwujud sepasang mitologi) dan mahluk surgawi lainnya.

Atap candi bertingkat – tingkat dengan susunan yang amat komplek masing –masing dihiasi sejumlah ratna dan puncaknya terdapat ratna terbesar.

1. Arca Siwa Mahadewa
Menurut ajaran Trimurti – Hindu, yang paling dihormati adalah dewa Brahma sebagai pencipta alam, kemudian dewa Wisnu sebagai pemelihara, dan dewa Siwa sebagai perusak alam. Tetapi di India maupun di Indonesia , Siwa adalah dewa yang paling terkenal.
Di Jawa, dia dianggap yang tertinggi, karenanya ada yang menghormatinya sebagai Mahadewa. Arca ini mempunyai tinggi 3 meter berdiri di atas landasan batu setinggi 1 meter.
Di antara kaki arca dan landasanya terdapat batu bundar berbentuk bunga teratai. Arca ini menggambarkan Raja Balitung, tanda – tanda sebagai Siwa adalah tengkorak di atas Bulan Sabit pada mahkotanya, mata ketiga pada dahinya, bertangan empat berselampangkan ular, kulit harimau di pingganya serta senjata trisula pada sandaran arcanya. Tangan – tanganya memegang kipas, tasbih, tunas bunga teratai, dan benda bulat sebagai benih alam semesta. Raja Balitung dipandang sebagai penjelmaan Siwa oleh keturunan dan rakyatnya.

2. Arca Siwa Mahaguru
Arca ini berwujud seorang tua yang berjanggut yang berdiri dengan perut gendut. Tangan kananya memegang tasbih, tangan kiri memegang kendi, dan bahunya terdapat kipas. Semuanya adalah tanda – tanda seorang pertapa. Trisula yang terletak di sebelah belakangnya menandakan senjata khas Siwa. Arca ini menggambarkan pendeta alam dalam istana Raja Balitung sekaligus seorang penasihat dan guru. Karena besar jasanya dalam menyebarkan agama Hindu – Siwa, maka ia dianggap salah satu aspek atau bentuk dari Siwa.

3. Arca Ganesha
Arca ini berwujud manusia berkepala gajah, bertangan empat yang sedang duduk dengan perut gendut. Tangan – tangan belakangnya memegang tasbih dan kampak sedangkan tangan – tangannya memegang pahatan gadingnya sendiri dan sebuah mangkuk. Ujung belalainya dimasukan ke dalam mangkuk itu yang menggambarkan bahwa ia tak pernah puas meneguk ilmu pengetahuan. Ganesha memang menjadi lambang kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan, penghalau segala kesulitan. Pada mahkotanya terdapat tengkorak dan bulan sabit sebagai tanda bahwa ia anak Siwa dan Uma, istrinya. Arca ini menggambarkan putra mahkota sekaligus panglima perang Raja Balitung.

4. Arca Durga atau Loro Jonggrang
Arca ini berwujud seorang wanita bertangan delapan yang memegang beraneka macam senjata : cakra, gada, anak panah, ekor banteng, sankha, perisai, busur, panah, dan rambut berkepala Asura. Ia berdiri di atas benteng Nandi dalam sikap tribangga ( tiga gaya gerak yang membentuk tiga lekukan tubuh) Banteng Nandi sebenarnya penjelmaan Daru Asura yang menyamar.
Durga berhasil mengalahkanya dan menginjaknya sehingga dari mulutnya keluarlah Asura yang lalu ditangkapnya. Ia adalah salah satu aspek dari sakti isteri Siwa.
Menurut metologi ia tercipta dari lidah –lidah api yang keluar dari tubuh para dewa. Durga adalah dewa kematian, karenanya arca ini menghadap ke utara yang merupakan arah mata angin kematian. Sebenarnya arca ini sangat indah apabila dilihat dari kejauhan nampak seperti hidup dan tersenyum namun hidungnya telah dirusak oleh tangan –tangan jahil. Arca ini menggambarkan permaisuri Raja Belitung.

  • CandiBrahma

Luas dasarnya 20 m2 dan tingginya 37 meter. Di dalam satu- satunya ruangan yang ada berdirilah arca Brahma berkepala empat dan berlengan empat. Arca ini sebenarnya sangat indah tetapi sudah rusak. Salah satu tangannya memegang tasbih yang menggambarkan waktu dan yang satu memegang kamandalu tempat air. Keempat wajahnya menggambarkan keempat kitab suci Weda masing – masing menghadap keempat arah mata angin. Keempat lengannya menggambarkan keempat arah mata angin. Sebagai pencipta, ia membawa air karena seluruh alam keluar dari air.
Dasar kaki candi juga dikelilingi oleh selasar yang dibatasi oleh pagar langkan dimana pada dinding langkan sebelah dalam terpahat relief lanjutan cerita ramayana dan relief serupa pada candi Siwa hingga tamat.

  • CandiWisnu

Bentuk dan ukuran relief serta hiasan dinding luarnya sama dengan Candi Brahma. Di dalam satu – satunya ruangan yang ada berdirilah arca Wisnu bertangan empat yang memegang gada, cakra, tiram. Pada dinding langkan sebelah dalam terpahat relief cerita kresna sebagai avatara atau penjelmaan Wisnu dan Balarama (Baladewa) kakaknya.

  • CandiNandi

Luas dasarnya 15 meter persegi dan tingginya 25 meter. Di dalam satu – satunya ruangan yang ada, terbaring arca seekor lembu jantan dalam sikap merdeka dengan panjang ± 2 meter. Di sudut belakangnya terdapat arca Dewa Candra. Candra yang bermata tiga berdiri di atas kereta yang ditarik oleh 7 ekor kuda. Candi ini sudah runtuh.

  • Candi Angsa

Candi ini berisi satu ruangan yang tak berisi apapun. Luas dasarnya 13 meter persegi dan tingginya 22 meter. Mungkin ruangan ini hanya digunakan untuk kandang angsa atau hewan yang biasa dikendarai oleh Brahma.

  • Candi Garuda

Bentuk dan ukuran serta hiasan dindingnya sama dengan Candi Angsa. Di dalam satu – satunya ruangan yang ada terdapat arca kecil yang berwujud seekor garuda di atas seekor naga.

  • Candi Apit

Luas dasarnya 6 m2 dengan tinggi 16 meter, ruanganya kosong, mungkin candi ini digunakan untuk bersemedi untuk memasuki candi induk. Karena keindahanya mungkin digunakan untuk menanamkan estetika dalam komplek percandian Prambanan.

  • Candi Kelir

Luas dasarnya 1,55 m2 dengan tinggi 4,10 meter. Candi ini tidak mempunyai tangga masuk fungsinya sebagai penolak bala.

  • Candi Sudut

Ukuran candi – candi ini sama dengan candi kelir.

6. Candi – candi lain di sekitar Prambanan

1. Candi Lumbung, Bubrah dan Sewu

Ketiga candi ini tinggal reruntuhan kecuali candi Sewu yang masih bisa dinikmati keindahanya, semuanya terletak dalam komplek candi Prambanan.

2. Candi Plaosan

Letaknya ± 1 km ke arah timur candi Sewu. Candi ini dibangun pada pertengahan abad 9 M oleh Rakai Pikatan sebagai hadiah kepada permaisurinya. Kelompok Candi Plaosan Lor (utara) terdiri atas dua candi induk, 58 perwara dan 126 buah stupa. Kelompok candi Plaosan kidul (selatan) hanya berupa sebuah candi. Halaman candi induk terbagi 2 yang masing – masing di atasnya berdiri sebuah biara bertingkat dua . Tingkat atas untuk tempat tinggal para pendeta Budha dan tingkat bawah untuk kegiatan keagamaan.

3. Candi Sajiwon

Letak candi ini ± 2 km ke arah tenggara dari percandian Prambanan. Sebagian besar hanya berupa reruntuhan. Pada kaki candi terpahat relief cerita bintang yang mengandung nilai – nilai filsafat.

4. Candi Boko

Letaknya ± 3 km ke arah selatan dari percandiaan Prambanan, berdiri di atas bukit kidul yang merupakan lanjutan dari pegunungan seribu dengan pemandangan alam nan permai di sekitarnya. Bangunan ini sangat unik berbeda dengan bangunan – bangunan lain di sekitarnya dan lebih mengesankan sebuah keraton (istana).
Diperkirakan Balaputera Dewa dan Dinasti Syailendra yang beragama budha mendirikanya pada pertengahan abad 9 M sebagai benteng pertahanan yang strategis terhadap Rakai Pikatan. Menurut legenda disinalah letak istana Ratu Boko, ayah Loro Jonggrang.

5. Candi Banyunibo
Candi ini terletak ± 200 meter ke arah tenggara dari candi Boko, berdiri di atas sebuah lembah. Banyu berarti air, nibo berarti jatuh menetas.

6. Candi Sari
Sari berarti indah atau cantik sesuai bentuknya yang ramping. Mungkin karena keindahanya yang menarik perhatian ia dinamakan demikian. Puncak atapnya berhiasakan 9 stupa yang sama sebangun dan tersusun dalam tiga deret. Di bawah masing – masing stupa terdapat ruangan – ruangan yang bertingkat 2 yang digunakan sebagai tempat meditasi dan mengajar.
Arca – arca Bodhisattwa terpahat pada dinding luarnya. Dinding ini dihias dengan amat indahnya biara Budha yang dibangun pada abad 8 M ini terletak pada sisi kiri jalan raya Yogya – Solo, masuk ± 500 meter ke arah utara. Bangunan dengan panjang 17, 32 meter dan lebar 10 meter ini merupakan sebagian saja dari kumpulan candi yang telah hilang .

7. Candi Kalasan
Peninggalan agama Budha tertua di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa tengah adalah candi Kalasan. Candi ini terletak pada sisi sebelah kanan jalan raya Yogya – Solo 13 km masuk beberapa puluh meter ke arah selatan. Candi ini didirikan oleh Panangkaran, raja kedua dari kerajaan Mataram kuno pada abad 8 M sebagai persembahan kepada Dewi Tara. Lengkung kala – makara dengan hiasan khayangan di atasnya terpahat pintu masuk dengan begitu indahnya. Keindahan hiasan dan relief – reliefnya disebabkan oleh sejenis semen kuno bajralepa. Candi ini dianggap permata kesenian Jawa Tengah.

8. Candi Sambisari
Letaknya ± 5,5 km dari percandiaan Prambanan ke arah barat dan ± 2,5 km ke arah utara dari jalan raya Yogya – Solo. Setelah terpendam, selama berabad – abad karena letusan Gunung Merapi pada bulan juli 1966 ditemukan kembali secara kebetulan oleh seorang petani yang tengah mengerjakan sawahnya. Kemudian di perbaiki dan pada tahun 1986 telah selesai.

Ini adalah hasil karya tulis saya waktu saya mengunjungi kota Yogyakarta, hasil karya tulis Ini sebenarnya saya buat sewaktu saya masih duduk di SMA, mohon maaf jika ada kesalahan mengenai hasil karya tulis ini dan semoga ini bermanfaat bagi yang ingin mengetahui sejarah candi Borobudur dan Candi Prambanan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.